Daerah Featured

Wowww..Raja Raja Kecil Bernyali Besar Mulai Muncul Lagi

Wowww..Raja Raja Kecil Bernyali Besar Mulai Muncul Lagi

Garuda Citizen – Pada suatu malam yang hujan turun begitu deras, seorang lelaki paruh baya berdiri di beranda rumahnya, menatap ke arah bukit-bukit yang samar di kejauhan.

Di kepalanya berkecamuk sebuah pertanyaan yang sederhana namun berbahaya. Mengapa seorang yang begitu kecil bisa merasa sebesar raja?

Sepertinya saat ini sejarah berulang lagi seperti nyanyian yang sudah kehilangan nada aslinya.

Raja-raja kecil mulai kembali lahir dan muncul dari rahim politik yang tidak pernah kehabisan daya untuk melahirkan penguasa baru—meski sering kali mereka lebih mirip bayangan dari para pendahulunya ketimbang sosok yang benar-benar membawa zaman baru.

Raja raja kecili itu sering kali diartikan adalah orang orang yang terdekat yang berada disekeliling para pejabat negara atau penguasa, yang saat ini sering kali diistilahkan orang orang ring satu BD 1.

Raja Kecil Pandai Ambil Muka Depan Bosnya

Setiap pejabat negara, pejabat daerah, bahkan pejabat di desa sekalipun, memang faktanya selalu saja dikelilingi oleh orang-orang dekat yang biasanya menjelma menjadi staf khusus, asisten pribadi, ajudan dan istilah lainnya.

Hal itu wajar saja asalkan tidak berlebihan. Bagaimanapun, setiap pejabat publik memang membutuhkan tim kerja yang berada di dekatnya yang setiap saat siap siaga membantu, melayani, menjaga, melindungi, memproteksi sekaligus memperlancar tugas-tugas yang diemban oleh pejabat yang bersangkutan.

Namun menjadi sangat tidak wajar, bahkan norak, jika para orang orang yang terdekat dengan seorang pejabat publik atau orang orang yang melayani sang pejabat, justru bermental seperti “piaraan”.

Istilah kata kepada majikan diam merunduk dan menunduk-nunduk, tapi ke bawah menindas dan menggonggong. Ke atas seakan menjadi budak, tapi ke bawah menjelma seperti Raja kecil.

Raja Kecil Merupakan Warisan penjajah Belanda

Hal seperti itu adalah mentalitas warisan penjajah Belanda yang hingga kini tidak dapat dipungkiri, masih bercokol dalam benak oknum tertentu, yang merasa dirinya berada di lingkaran pejabat. Karena pemerintah Belanda dulu memang mempraktekkan politik “belah bambu”, satu diinjak, satu diangkat.

Di era reformasi saat ini, mentalitas sebagai elit dan kaum yang berkelas, tentu sudah tidak berlaku lagi.

Karena jika mereka yang masih tetap mengklaim diri sebagai elit karena dekat dengan pejabat publik tertentu, seperti raja kecil justru akan menjatuhkan wibawa pemimpinnya sendiri.

Setiap orang yang mengabdi pada seorang pejabat publik, tetap merujuk pada profesionalisme, mampu membaca bahasa gerak tubuh pemimpinnnya, mampu membaca psikologi masyarakat dan memposisikan majikannya bukan sebagai Raja yang harus diproteksi secara berlebihan, tapi ditempatkan pada proporsi sebagai pejabat publik.

Kemudian yang terpenting lagi, seorang yang dekat dan berada dalam lingkaran Gubernur atau Bupati, mampu menempatkan diri, mampu bersikap dan bertindak secara cepat dan tepat dan bukan memunculkan kata kata yang buruk ditengah masyarakat.

Sebab, sikap attitude-nya orang-orang yang berada dalam lingkaran kekuasaan atau mereka yang sangat dekat dengan seorang pejabat publik, menjadi sebuah cermin pemimpinnya.

Apa lagi pemimpin dipilih oleh rakyat, dan pemimpin dituntut harus mampu menjaga kepercayaan rakyat.

Bagaimana menjaga kepercayaan rakyat itu, maka jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat. Oleh karena itu, Gubernur, Bupati dan pejabat publik lainnya, dituntut jeli, peka dan selektif dalam memilih orang-orang yang akan bekerja dan mengabdi di lingkarannya bertugas.

Sehebat dan sebaik apapun seorang Gubernur dan Bupati, namun jika atitude orang-orang di sekitarnya, tidak mencerminkan karakter yang mumpuni, atau seperti ular berbisa, maka hal itu akan menjadi tidak baik di mata masyarakat.

Artinya, mentalitas sebagai pelayan yang ramah dan berkarakter lebih dikedepankan, dan jangan sekali-kali mencerminkan diri sebagai “piaraan” pejabat. Karena saat ini bukan zamannya Belanda lagi broo. (Red)

Related posts

Ini Pesan Herliyanto Pada Saat Lepas 183 Kades Bimtek ke Curup

Beni Irawan

Belum Ada RDTR, Raperda Sampah Terkesan Batal

Beni Irawan

Pemecatan ASN Golongan IV.a Merupakan Kewenangan Gubernur

Beni Irawan

Leave a Comment

20 − 12 =