Garuda Citizen – Ada dua dua desa di Kecamatan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara, dikabarkan menolak terkait pelatihan pembuatan website desa dan Aplikasi pembayaran online yang diselenggarakan oleh PT. Trie Teknologi Global di Hotel Mercure Kota Bengkulu.
Menurut penjelasan dari salah satu peragkat desa di Kecamatan Lais yang enggan disebut namanya dengan garudacitizen.com mengatakan, pihaknya menolak pelatihan pembuatan Website desa tersebut lantaran biayanya terlalu besar.
“Kami menolak karena biayanya mencapai Rp 29 Juta lebih, menurut kami itu tidak wajar. Sementara, kami menilai dana desa yang ada saat ini saja untuk kebutuhan warga masih kurang,” jelasnya, melalui Via WA nya, Selasa (10/6/2025).
“Untuk di Kecamatan Lais ada dua desa yang menolak,” ujarnya.
Selain menelan biaya yang cukup besar. Mereka menolak pelatihan pembuatan Website Desa tersebut karena tidak masuk dalam musyawarah desa penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
“Kemudian perlu juga dikathui, kami menolak karena dari awal tidak masuk dalam Musdes Penetapan APBDes. Makanya APBDes desa kami juga tidak dilakukan perubahan,” terangnya.
Pelatihan pembuatan website desa di Kabupaten Bengkulu Utara yang diselenggarakan oleh PT. Trie Teknologi Global di Hotel Mercure Kota Bengkulu pada bulan Mei tahun 2025 ini sepertinya menuai kritik tajam dari berbagai pihak.
Seorang juru bicara Ormas Komunaksi Bengkulu, Deno Andeska, mengatakan, selain menelan biaya yang tidak wajar, pelatihan Website desa tersebut dinilai tidak memiliki dasar aturan hukum yang jelas.
“Kalau saya mengatakan, pembuatan Website desa di Bengkulu Utara saat ini termahal di dunia dan ini perlu diusut. Saat ini kan media online sudah menjamur, coba tanya dengan pemilik media online, berapa mereka buat Websitenya,” pungkas Deno. (Ben)
